ABSTRAK
Mencipta
produk kreatif merupakan kebutuhan pokok bagi para pengrajin maupun para
pekerja seni untuk dapat menghadirkan produk baru yang menarik di kalangan
masyarakat. Keberagaman hasil produk akan menjadikan kepuasan batin bagi
penciptanya khususnya pekerja seni. Pemanfaatan sesuatu yang belum termanfaat
yang ada di sekitar kita adalah PR yang tak pernah henti bagi pengrajin atau
pekerja seni untuk digarap agar menjadi lebih bermanfaat khususnya untuk
mensuplai memenhui kebutuhan sehari-hari baik yang bersifat ‘pokok’ maupun
‘tidak pokok’. Pengrajin atau Pekerja seni memiliki eksistensi penting di
tengah masyarakat khususnya yang dapat memberikan dampak kemajuan dan
memberikan nuansa baru dalam kehidupan. Pemanfaatan limbah dengan baik dan
pengolahan yang ramah lingkungan tentunya akan dapat memberikan dampak positif
kepada masyarakat, khususnya di daerah yang memang sering dan selalu
menghadirkan limbah dalam setiap pecan tetapi masyarakat belum dapat mengolah
secara maksimal keberadaan limbah tersebut yang mana limbah tersebut akan
semakin menumpuk dan terbengkelai. Pada topic ini akan membahas tentang
pemanfaatan kayu kopi sebagai penciptaan produk kreatif kriya yang pada awalnya
dikerjakan oleh siswa SMK didaerah Sumatera Selatan yang merupakan daerah
perkebunan kopi.
Katakunci
: inovasi, produk kreatif, limbah, kayu kopi
ABSTRACT
Creating creative products is a fundamental need for
craftspeople and artists, enabling them to present new and exciting products to
the public. The diversity of products creates inner satisfaction for their
creators, especially artists. Utilizing underutilized materials around us is a
never-ending challenge for craftspeople and artists, who must work on them to
make them more useful, especially in meeting daily needs, both essential and
non-essential. Craftspeople and artists have a vital presence in society,
particularly those who can contribute to progress and bring new nuances to
life. Proper waste utilization and environmentally friendly processing will
undoubtedly have a positive impact on society, particularly in areas where
waste is often generated weekly, but communities are unable to optimally
process it, leading to accumulation and neglect. This topic will discuss the
use of coffee wood to create creative craft products, initially created by
vocational high school students in South Sumatra, a coffee-growing region.
Keywords: innovation, creative products, waste, coffee wood.
A.
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang
pengrajin maupun pekerja seni akan selalu menempatkan dirinya untuk memiliki
kebebasan berkreasi dalam menciptakan
suatu karya. Adanya kebebasan mencipta akan melahirkan keragaman pemikiran,
proses kreatif dan karya yang masing-masing mempunyai keunikan (Adam Wahida,
2008:1). Dalam penciptaan
sebuah karya seni, proses kreatif memiliki peranan
penting. Proses kreatif berperan sebagai tindakan yang menyebabkan hadirnya
karya seni rupa, yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan jenis
karya seni lainnya. Proses kreatif merupakan proses pemikiran yang diawali dari
ide atau imajinasi yang kemudian diolah sehingga menghasil sesuatu yang baru, selanjutnya, bagi pengrajin atau pekerja seni ide imajinatif
tersebut diwujudkan menjadi karya seni rupa yang estetik dan artistik.
Seseorang yang memiliki ide imajinatif disebut sebagai manusia imajinatif, dan
jika ia mampu mewujudkan imajinasinya menjadi karya nyata, dan disinilah mereka
disebut sebagai manusia kreatif.
Seperti
yang diurai dalam buku Pengetahuan Dasar Seni Rupa karya Sofyan Salam
dkk (2020: 13), ada beberapa pengertian yang dapat kita pahami mengenai proses
kreatif sesorang dianatranya :
1.
Kekreatifan Ekspresif
Kekreatifan
ekspresif yaitu bentuk proses kreatif dalam penciptaan karya seni rupa yang
terjadi secara spontan. Dalam mewujudkan karya seni rupa yang menarik, ide
kreatif yang muncul datang secara tiba-tiba dan tidak terencana sama sekali.
2.
Kekreatifan Produktif
Kekreatifan
produktif yaitu bentuk proses kreatif dalam penciptaan karya seni
rupa, yang ditunjukkan pada kemampuan teknis seseorang dalam menghasilkan
sebuah karya. Kekreatifan ini diperoleh setelah seseorang melewati pelatihan
teknis, sehingga menjadikannya sebagai seseorang yang terampil.
3.
Kekreatifan Inventif
Kekreatifan
inventif yaitu bentuk proses kreatif dalam penciptaan karya seni rupa, yang
tidak sekadar menunjukkan keterampilan teknis, tetapi juga terlihat adanya
suatu penjelajahan. Penjelajahan ini berujung pada sebuah inovasi atau penemuan
seperti alat-alat, bahan, hingga teknik terbaru.
4.
Kekreatifan Inovatif
Kekreatifan
inovatif yaitu bentuk proses kreatif dalam penciptaan karya seni rupa yang
memiliki tingkat orisinalitas lebih tinggi daripada kekreatifan inventif.
Kekreatifan ini menunjukkan bahwa sebuah karya seni rupa dapat memiliki dua
fungsi sekaligus. Misalnya, selain memiliki fungsi praktis, karya seni juga
dapat berfungsi sebagai benda yang estetik.
5.
Kekreatifan Emerjenatif
Kekreatifan emerjenatif yaitu bentuk proses kreatif yang paling orisinal dan levelnya setara dengan para pemenang Nobel dalam bidang Sains. Kekreatifan ini hanya dimiliki orang-orang jenius. Hal ini ditunjukkan oleh tokoh pelopor lahirnya berbagai aliran dalam seni rupa.
Melihat dari pengertian ‘kreatif’ disini penulis akan membatasi pokok masalah yang akan dibahas. Pembatasan masalah pokok bahasan akan diurai mengenai kebutuhan proses kreatif dilingkungan sekolah yang subjek maternya adalah para siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan daerah tempat tinggal para siswa tersebut yang dominan sebagai daerah perkebunan kopi. Sekolah yang dimaksud adalah SMK Negeri 1 OKU Selatan yang terdapat di Kabupaten OKU Selaan Provinsi Sumatera Selatan.
OKU Selatan adalah salah satu kabupaten yang terletak di Sumatera Selatan dan merupakan salah satu daerah pengahasil kopi terbesar di Indonesia. Secara geografis, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan merupakan wilayah dataran tinggi yang berbukit-bukit dengan ketinggian antara 45 sampai 1.643 meter di atas permukaan laut, terletak di antara 4° 14' sampai 4° 55' Lintang Selatan dan 103° 22' sampai 104° 21' Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan yaitu 5.849,89 km2 atau 549.394 (BPS Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Dalam Angka, 2017:9). Kabupaten OKU Selatan merupakan daerah yang cukup subur untuk sektor pertanian dan perkebunan. Sektor perkebunan yang mendominasi daerah ini adalah perkebunan kopi, sehingga mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah sebagai petani kopi. Kabupaten OKU Selatan merupakan penghasil kopi paling produktif di Sumatera Selatan. Hal ini yang menjadikan sektor perkebunan kopi di daerah ini berkembang pesat. Karena dari hasil sensus membuktikan bahwa kabupaten OKU selatan merupakan daerah penghasil kopi, hal ini dipastikan akan banyak menghasilkan juga limbah dari hasil perkebunan kopi tersebut salah satunya limbah dari pohon kopi tersebut yaitu kayu kopi.
Sesuai dengan keperluan penelitian, bahwa di sini penulis (pencipta karya) akan memaparkan tentang pemanfaatan limbah kayu kopi yang merupakan ‘eks’ dari perkebunan kopi yang dikhawatirkan kurang memberi manfaat kepada masyarakat maka dari limbah tersebut akan dialokasikan ke ranah pendidikan yaitu untuk bahan pembelajaran di lingkup sekolah. Sekolah yang dimaksud di sini adalah Sekolah Kejuruan yang ada didaerah tersebut yang notabene sekolah yang tekankan pada materi praktikum. Siswa SMK dituntut untuk memiliki skil atau keterampilan khusus sesuai dengan bidang/jurusan yang ditekuninya. Tuntutan untuk kreatif dan inovatif sudah menjadi hal yang pokok untuk siswa sekolah kejuruan terutama sekolah kejuruan yang mengedepankan hasil produk dari praktik siswa.
Pengertian inovasi secara bahasa berasal dari bahasa latin yaitu dari kata ‘innovation’ yang berarti pembaharuan atau perubahan. Pengertian inovasi merupakan suatu perubahan baru yang akan mengarah pada perbaikan. Oleh karena itu, inovasi adalah dengan dikenalkan cara atau metode baru dari input samapai pada output maka akan menghasilkan perubahan yang nampak dengan suksesnya dalam bidang sosial maupun ekonomi. Menurut Muhammad Kristiawan (2028 : 6) dalam bukunya “Inovasi Pendidikan” menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, halhal yang praktis, metode, cara dan barang-barang buatan manusia yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang. Sesuatu yang baru itu dapat berupa hasil diskoveri atau invensi yang dimanfaatkan dalam mencapai tujuan tertentu dan untuk memecahkan masalah tertentu.
Inovasi pendidikan merupakan sesuatu yang hakiki menjadi tuntutan dari generasi ke generasi untuk kemajuan pendidikan. Menurut Rusdiana (2014 : 46). Inovasi pendidikan merupakan suatu ide dan metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang atau masyarakat, baik berupa hasil penemuan baru atau baru ditemukan orang yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Sedangkan menurut Udin Syaifudin Sa’Ud (2012 : 2-3) Inovasi Pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya, serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat.
Lalu apa yang dinamakan limbah ? dalam bukunya Arif Sumantri (2010 : 62) mengatakan menurut American Public Health Association, limbah diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan lagi, tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengolahan Lingkungan Hidup (PPLH), limbah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan. Dari dua pengertian ini dapat kita simpulkan bahwa limbah sisa atau bekas dari suatu usaha yang sudah tidak digunakan lagi atau tidak terpakai hasil dari kegiatan manusia. Sedangkan merujuk dari topik pembahasan yang disebut limbah kayu kopi dapat dikatakan bahwa kayu tersebut bukanlah secara murni disebut limbah karena pada umumnya limbah kayu dalam bentuk apapun masih bisa digunakan untuk kebutuhan hidup meskipun dari segi manfaat memiliki nilai rendah, misalnya limbah kayu tersebut digunakan sebagi kayu bakar untuk kegiatan memasak maupun untuk membakar barang-barang gerabah (kerajian tanah liat). Jika ditilik dari segi pemanfaatan limbah kayu yang pada umumnya untuk dibakar tentu saja pemanfaatan limbah tersebut tergolong rendah karena untuk kayu bakar bisa menggunakan kayu-kayu yang lain yang lebih memiliki kualitas kayu yang rendah. Pada umumnya limbah kayu kopi berasal dari pohon kopi yang sudah tua, yang sudah tidak produktif lagi atau tidak berbuah lagi atau masih berbuah tapi sedikit. Umumnya masyarakat petani akan menebangnya dan menggantinya bibit tanaman kopi yang baru.
Limbah kayu kopi pada kali ini akan dimanfaatkan untuk pembuatan benda kriya, yang mana akan dijadikan objek materi ajar untuk siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan. Tentu saja tidak hanya sekedar untuk membuat benda kriya tetapi diarahkan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang menarik dan sesuatu yang lebih memberi manfaat kepada masyarakat. Siswa, sebagai seorang yang akademis sudah selayaknya belajar untuk dapat mencari ide, berpikir kritis hingga dapat memecahkan pokok masalah yang dibahas. Ide baru dari sebuah pemikiran siswa adalah hal yang sangat diharapkan bagi seorang pendidik.
Mencipta benda kriya bukanlah hal yang gampang, karena dalam proses penciptaannya diperlukan proses pemikiran yang matang sehingga menghasilkan sesuai yang diharapkan. Pengertian seni kriya sendiri kalau kita kaji akan akan mendapatkan kajian yang beraneka ragam pengertian, karena pengertian seni kriya sampai saat ini masih sering menjadi bahan diskusi yang tidak ada habis-habisnya dibahas. Terdapat beberapa pendapat yang bermacam-macam, hal ini dapat dimaklumi mengingat masing-masing pendapat memiliki cakrawala yang berangkat dari garis pijak, sudut pandang pendekatan dan kajian yang tidak selalu sama. (Rispul, 2012 : 3). Menurut WikipediA Ensiklopedia Bebas Seni kriya adalah jenis karya seni terapan yang meliputi: seni keramik, seni ukir, seni tekstil, ataupun kerajinan. Dijelaskan juga oleh Soedarso Sp. dalam bukunya dituliskan bahwa seni kriya adalah cabang seni rupa yang sangat memerlukan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi seperti misalnya ukir kayu, seni keramik, anyam-anyaman, dan sebagainya. (Soedarso Sp., 1990 : 15). Sedangkan arti craftman adalah seniman yang memiliki ketramplian teknik. Dalam bahasa sangsekerta istilah “kriya” berasal dari akar kata “kr” yang berarti mengerjakan, dari akar kata tersebut kemudian menjadi kata: karya, kriya, kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek. Dalam bahasa Indonesia kata “kriya” berarti pekerjaan atau kerajinan tangan. Di dalam bahasa Inggris disebut craft yang berarti energi atau kekuatan. Kemudian istilah itu diartikan sebagai ketrampilan dan dikaitkan dengan sebuah profesi seperti yang terlihat dalam craftworker (pengerajin). Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan. (I Made Bandem 2002: 1). SP. Gustami menjelaskan sebagai berikut; bahwa yang dimaksud seni kriya dalam bahasan ini ialah suatu karya seni yang unik dan karakteristik yang didalamnya mengandung muatan nilai-nilai yang mantap dan mendalam menyangkut nilai estetik, simbolik, filosofis, dan fungsinya. Oleh karena itu di dalam perwujudannya di dukung “craftsmanship” tinggi, akibat nya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni “adiluhung”... selanjutnya seni kriya pada masa lampau itu, sekarang mendapat predikat sebagai seni-seni tradisional.( SP.Gustami, 1992 : 71).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian seni kriya adalah sesuatu yang dikerjakan dengan lebih banyak menggunakan kemampuan dan keahlian yang dihasilkan oleh tangan terampil seseorang, bersifat indah serta dalam perwujudannya dibuat dengan sangat artistik/unik meskipun seringkali merupakan produk yang memiliki fungsi praktis (untuk memenuhi kebutuhan).
~ ~ ~ ~ ~ ~
B. METODE PENELITIAN
Dalam penciptaan karya seni diperlukan sebuah proses yang panjang, penciptaan karya seni inovatif sangat dibutuhkan pemikiran yang matang dan proses yang lebih terperinci agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Mulai dari penelitian bahan baku, pengumpulan data, penuangan ide, konsep penciptaan, perancangan karya, proses perwujudan serta penyajian karya.
Dari uraian yang dipaparkan diatas maka langkah awal penulis akan mengurai dari penelitian. Penelitian awal adalah langkah pertama untuk mendapatkan informasi terkait bahan baku yang akan digunakan. Berdasarkan penelitian yang didapatkan pada umumnya tanaman kopi yang sudah tua tidak akan produktif lagi atau hanya menghasilkan buah yang relative sedikit, untuk mengefesiensi lahan pertebunan umumnya mereka para petani kopi akan menebang dan menggantinya atau mereboisasi tanaman tersebut dengan tanaman yang baru. Dari hasil penebangan tanaman kopi yang sudah tua akan meninggalkan bekas yang otomatis tidak bermanfaat lagi selain umumnya mereka hanya akan dipakai untuk kayu bakar atau bahkan hanya hanya ditumpuk yang lambat laun akan lapuk dimakan rayap dan sejenisnya. Kayu kopi yang sudah tua dipastikan memiliki kualitas kayu yang bagus, kayu kopi memiliki karakteristik unik, bentuk akar yang khas, keras dan tahan lama serta anti bubuk (jika sudah dimanfaatkan untuk keperluan industri) sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk, termasuk kerajinan tangan maupun furniture yang membutuhkan nilai artistic yang tinggi dari karakteristik kayu tersebut. Kayu kopi memiliki warna yang bervariasi, mulai dari cokelat muda hingga cokelat tua, dan tekstur yang relatif halus, memiliki aroma yang khas, terutama saat masih segar.
Dari hasil interview salah satu petani kopi di kabupaten OKU Selatan Bapak Zulkarnain, beliau mengatakan bahwa limbah kayu kopi memiliki arti penting bagi petani, diantaranya kayu kopi yang berasal dari pohon kopi yang sudah tidak produktif lagi memiliki nilai jual dikalangan para pengrajin dan dapat menghasilkan tambahan pendapatan bagi petani, selain itu penebangan pohon kopi yang tidak produktif untuk peremajaan adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan tanaman kopi dan meningkatkan hasil panen di masa mendatang. Kemudian juga mendapat informasi dari petani kopi yakni Bapak Teguh Firman Hidayat, beliau menjelaskan bahwa kayu kopi yang sudah tua dan ditebang biasa digunakan oleh masyarakat untuk kayu bakar, ciri khas dari kayu ini akan menghasilkan api berwarna merah merona dan lebih panas daripada kayu-kayu bakar biasanya yang menghasilkan api berwarna kuning, selain itu juga lebih awet perapiannya sehingga menjadikan hasil masakan lebih cepat matang.
Kopi adalah tanaman perdu yang memiliki
tinggi antara 2 – 4 meter. Tanaman kopi terdiri dari: akar, batang dan
percabangan (cabang primer dan cabang sekunder, cabang reproduksi, cabang balik
dan cabang kipas), daun, bunga, dan buah.
(Nani Nazir, “Mengenal Tanaman Kopi” (2016).
Menurut penelitian secara langsung kayu kopi memiliki sifat yang keras dan
padat, sehingga memiliki volume yang berat. Cabang-cabang yang dimiliki kayu
kopi berbentuk dinamis tidak beraturan. Menurut Najiyati, dkk dalam bukunya. “Kopi : Budi Daya dan Penanganan Pascapanen”
(2004) pada umumnya jenis-jenis tanaman kopi yang dibudidayakan diantaranya kopi
arabika, robusta dan liberika.
Jenis-jenis kopi
:
· Kopi
Robusta
Jenis kopi ini berasal dari Afrika, dari
pantai barat sampai Uganda.Kopi robusta memiliki kelebihan dari segi produksi
yang lebih tinggi di bandingkan jenis kopi arabika dan liberika.
· Kopi Arabika
Merupakan kopi yang
paling banyak di kembangkan di dunia maupun di Indonesia khususnya. Kopi ini
ditanam pada dataran tinggi yang memiliki iklim kering sekitar 1.350 - 1.850 m
dari permukaan laut. Sedangkan di Indonesia sendiri kopi ini dapat tumbuh dan
berproduksi pada ketinggian 1.000 – 1.750 m dari permukaan laut.
· Kopi Liberika
Menurut Edy Panggabean, jenis kopi ini berasal dari dataran rendah Monrovia di daerah Liberika. Pohon kopi liberika tumbuh dengan subur di daerah yang memiliki tingkat kelembapan yang tinggi dan panas.
Dari beberapa survey litertur tersebut namun di daerah penghasil kopi yang dimaksud (kabupaten OKU Selatan) pada umumnya masyarakat membudidayakan jenis kopi Arabika dan kopi Robusta. Jenis kopi Arabika yang dibudidayakan di sini cenderung memiliki batang yang lebih kecil dibanding kopi Robusta. Di daerah ini Kopi Robusta kebanyakan di budidayakan di daerah-daerah bersuhu dingin, dan umumnya mereka men-stek dari bibit kopi Arabika disambung dengan kopi Robusta, agar dapat menghasilkan buah yang lebih banyak.
Analisis Anatomi Batang Tanaman Kopi Robusta (Coffee Robusta)
Batang yang dimiliki oleh tanaman kopi Robusta
berbentuk bulat yang mana bagian bawah berukuran lebih besar dan semakin ke atas
ukuran diameter semakin kecil. Pada 8 permukaan batang tanaman ini memiliki
sifat melespaskan kerak pada bagian kulit yang sudah tidak berfungsi. Batang
tanaman ini dapat tumbuh ke atas mencapai sekitar 2-4 meter.
·
Akar
·
Cabang
Reproduksi (Orthotrop)
Cabang reproduksi adalah cabang yang
tumbuh tegak dan lurus. Tempat tumbuhnya cabang orthotrop berada dibatang.
Tanaman cabang ini mempunyai sifat seperti batang utama.
·
Cabang
Primer (Plagiortrop)
Cabang primer adalah cabang yang tumbuh
pada batang utama atau cabang reproduksi. Cabang primer tumbuh ke samping
dengan arah mendatar.
·
Cabang
Sekunder
Cabang sekunder adalah cabang yang
tumbuh pada cabang primer. Berbagai arah tumbuh cabang sekunder di antaranya
adalah samping bawah, samping atas, dan membentuk cabang kipas.
·
Cabang
Kipas
Cabang kipas adalah cabang reproduksi
yang tumbuh pada bagian ujung cabang primer. Arah pertumbuhan cabang kipas
mengarah ke samping dan atas.
·
Cabang
Pecut
Cabang pecut adalah cabang kipas yang
tidak mampu membentuk cabang primer, meskipun tumbuhnya tidak cukup kuat.
·
Cabang
Balik
Cabang balik adalah cabang reproduksi
yang tumbuh pada cabang primer. Arah pertumbuhan cabang balik agak berbeda
dengan jenis cabang lainnya, yaitu ke arah mahkota tajuk dan berkembang biaknya
tidak secara normal.
·
Cabang
Air
Cabang air adalah salah satu cabang yang tumbuhnya secara pesat, ruas daunnya relatif panjang dan lunak dan banyak mengandung air.
Usia Produktif dan Kadar Air Kayu Kopi Robusta
Menurut Ucu Sumirat, peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
Indonesia (Puslitkoka) yang selama
ini banyak melakukan kegiatan penelitian di Lampung, usia ideal tanaman kopi
yang produktif, yakni 5—20 tahun. Tanaman kopi dapat disebut tua jika telah
melewati usia 20 tahun. Kenyataannya, pada perkebunan-perkebunan kopi rakyat di
Indonesia sangat mudah menemukan tanaman kopi berusia hingga 30 tahun. Pohon
kopi yang tua dapat terlihat dari bentuk atau morfologi tanamannya. Bentuk
batangnya lebih besar dan cenderung keropos; tidak optimal lagi untuk menopang
produktivitas buah. Selain itu, akar tanaman kopi yang sudah tua tidak optimal
untuk menyerap bahan makanan. Masa puncak
produktivitas tanaman kopi berada pada masa puncak produktivitas antara usia 5
hingga 10 tahun. Usia produktif lanjutan, dengan pemeliharaan yang
optimal, tanaman kopi masih bisa produktif hingga usia sekitar 20 tahun.
Analisis Kebutuhan Materi Ajar di SMKN 1 OKU Selatan
Kebutuhan materi ajar di lingkunan sekolah merupakan hal yang sangat vital. Hal ini menjadi tuntutan para pendidik di sekolah untuk professional dalam bidangnya masing-masing. Si Penulis yang notabene sebagai pendidik praktik di sekolah SMKN 1 OKU Selatan mencoba untuk selalu dapat menghadirkan materi-materi baru yang belum pernah diajarkan di sekolah tersebut. Usaha mencari ide tak pernah berhenti dari materi satu ke materi berikutnya. Setelah perbincangan yang cukup panjang dengan kaprodi jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual), Ibu Marlia Astuti, S.Kom, beliau menuturkan bahwa anak-anak (siswa-siswi) sangat diharapkan bisa memiliki keterampilan khusus, terutama dalam membuat karya kretaif (karya kerajinan), dan selama ini hanya guru-guru tertentu yang memiliki keahlian khusus dalam bidang tersebut. Dalam situasi ini si penulis yang memang berlatar belakang sebagai guru seni rupa bidang kekriyaan diberi tugas untuk mengampu Mata Pelajaran Pilihan : Kriya Kayu dan Rotan di jurusan DKV. Pada analisis ini penulis akan membahas pada bidang ajar yang sesuai dengan pokok bahasan, yaitu ‘Pemanfaatan Limbah Kayu Kopi sebagai Inovasi Produk Kreatif Kriya Siswa SMK’, meskipun sebelumnya juga mengampu mata pelajaran yang berbasis kekriyaan.
~ ~ ~ ~ ~ ~
C. PENCIPTAAN KARYA
1.
Ide Penciptaan Karya
Malam adalah suasana dimana keadaan sekitar gelap gulita karena tidak ada sinar matahari, dimana waktunya seseorang untuk mengistirahatkan badan dari lelahnya aktivitas yang telah dikerjakan selama sehari. Untuk memanjakan lelahnya badan agar tercipta suasana yang rilex dan ‘enjoy’ diperlukan sebuah ide yang dapat mendukungnya. Suasana remang dan udara yang harum merupakan sesuatu yang pas untuk menemani istirahat kita. Dua kata ‘remang’ dan ‘harum’ menjadi objek ide penciptaan karya seni kriya. Untuk menciptakan suasana ‘remang’ diperlukan ide bagaimana agar sumber cahaya yang tercipta dari sorot lampu pijar dapat tepancar tidak terang benderang menyilaukan mata. Dari acuan ini Si Penulis menemukan ide bagaimana menciptakan lampu tidur dalam bentuk penyimpanan cahaya lampu pada sebuah wadah yang dapat menghalau keluarnya cahaya yang menyilaukan mata. Dalam kondisi ini muncullah ide membuat wadah lampu tadi dari batang kayu kopi yang notabene sebagai limbah perkebunan. Dari kayu-kayu kopi tadi dipilih yang bagian ranting untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil (kurang lebih sebesar jari tangan) agar bisa untuk membuat sesuai ide desain yang diharapkan. Sengaja dibuat dari pemanfaatan limbah agar tercipta karya yang ramah lingkungan. Wujud daripada karya ini berbentuk ruang cahaya bebentuk guci yang tersusun dari potongan-potongan kayu yang sengaja dibuat agar terkesan artistic. Untuk wujud karya secara detail nanti akan dibahas pada bab Desain Karya
2.
Latar Belakang Penciptaan Karya
Limbah
merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan yang berasal dari
perilaku manusia. Kerusakan lingkungan ini berlangsung sebagai akibat dari perilaku
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kerusakan lingkungan dapat ditimbulkan
salah satunya dari sisa-sisa perkebunan, baik berupa kayu, daun maupun bekas
buah yang tak termanfaatkan atau belum/tidak diolah. Pengolahan limbah dengan
baik dan benar akan banyak memberi
manfaat untuk kelangsungan hidup dan ekosistem lingkungan, baik manusia,
binatang dan tumbuhan. Pertambahan jumlah limbah di lingkungan perkebunan
secara signifikan perlu diupayakan cara pemanfaatannya melalui pengolahan
limbah, khususnya bekas dari perkebunan sehingga menjadi benda bernilai guna.
Di daerah
Kabupaten OKU Selatan cukup terkenal sebagai daerah perekebunan kopi, baik Arabica maupun Robusta. Dari hasil pengamatan bahwa didaerah ini belum ada
masyarakat yang memanfaatkan dengan baik hasil dari limbah perkebunan ini
terutama batang kayu kopi untuk menjadi
tambahan penopang ekonomi masyarakat (untuk tambahan penghasilan). Pada umumnya
mereka hanya menggunakannya sebagai kayu bakar untuk memasak. Batang kayu dari
hasil penebangan dipastikan umumnya
pohonnya sudah tua sehingga batang kayunya cukup keras sehingga mempunyai ketahanan
yang cukup tinggi dan tidak mudah lapuk. Oleh karena itu, jika pemanfaatannya diolah
menjadi benda yang bernilai guna, seperti barang-barang kerajinan, souvenir,
perabot rumah tangga, muebellairdan lain sebagainya akan menghasilkan produk
yang tidak mudah hancur dan menjadi
lebih bermanfaat bagi lingkungan baik untuk alam maupun sosial. Pengolahan
limbah kayu kopi ini dapat dikombinasikan dengan material lain seperti kaca, plastic,
elektronik dan lain sebagainya.
Pemanfaatan limbah kayu hasil perkebunan membutuhkan kreativitas pelakunya. Untuk pengembangan kreativitas tersebut, dibutuhkan keahlian/keterampilan dalam mengolah limbah. Keahlian dalam mengolah limbah sangatlah vital sehingga dapat dikembangkan menjadi produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kreativitas sangat membutuhkan dukungan keterampilan khusus dalam penerapannya. Dari keberadaan limbah ini, kayu-kayu kopi tersebut akan diolah menjadi perabot interior yang akan memperindah sekaligus memberi kenyamanan sesorang ketika di dalam ruangan.
3.
Tujuan dan Manfaat Penciptaan Karya
Dalam
menciptakan sesuatu, khususnya berbentuk barang nyata tentu saja harus memiliki
tujuan dan manfaat baik bagi lingkungan maupun masyarakat. Adapun tujuan dan manfaat penciptaan olahan limbah
perkebunan berupa kayu kopi ini diantaranya:
1)
Mengurangi
adanya limbah perkebunan, salah satunya batang kayu kopi yang belum termanfaat
maupun yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
2)
Mengolah
limbah kayu kopi menjadi karya seni bernilai guna dan ekonomis.
3)
Memenuhi
kebutuhan perabot ruang interior yang membutuhkan keindahan dan kenyamanan ruang.
4)
Melatih
kreativitas siswa dalam mengolah limbah kayu kopi.
5)
Menciptakan
lapangan kerja bagi masyarakat umum, khususnya para pengrajin di daerah Oku
Selatan.
6) Meningkatkan pendapatan dalam menopang kebutuhan ekonomi masyarakat.
4.
Desain karya
Pembuatan desain atau sketsa
dimaksudkan agar bentuk yang diinginkan akan lebih terpetakan. Dengan
menggunakan desain yang kita buat akan memudahkan kita dalam dalam mewujudkan
bentuk karyanya. Hal ini juga akan memberi peluang baru untuk memunculkan
ide-idelain ketika proses pewujudan karya disaat apa yang sudah kita rencanakan
ternyata tidak sesuai yang kita harapkan.
1.
Perwujudan karya
1).
Persiapan
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam proses persiapan adalah mencari sumber-sumber kreatif untuk pemanfaatan limbah,
sehingga hasil usaha yang akan kita lakuakan bisa berjalan normal. Tanpa hambatan, dalam penyiapan alat dan bahan kita
mempunyai banyak referensi.
· Referensi
· Orang yang berkreasi dalam bidang tersebut
· Media internet
Dalam pemanfaatan limbah yang harus kita lakukan adalah mencari sampah organik yang masih bisa di gunakan, kebutuhan bahan yang dari limbah dalam pembuatan lampu hias berupa kayu kopi.
2). Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan diantaranya:
Ø Cutter/pisau, digunakan untuk mengupas kulit ranting kayu kopi dan kebutuhan perakitan perlistrikan maupun merapikan bagian-bagian potongan kayu.
Ø Lem G/lem china, digunakan untuk menempelkan potongan kayu kopi
Ø Obeng, digunakan untuk memasang stand lampu pada papan alas
Ø Gergaji potong kecil, digunakan untuk memotong kayu kopi.
Bahan yang digunakan diantaranya:
Ø Ranting kayu kopi, sebagai bahan utama pembuatan karya
Ø Kabel, untuk instalasi perlistrikan
Ø Fitting lampu tempel bulat
Ø Steker/Jek
Ø Politur dan kuas , berfungsi untuk finishing bagian kayu
Ø Arduino, Arduino Uno yaitu sebuah papan mikrokontroler open-source yang menggunakan mikrokontroler ATmega328P, dikembangkan oleh Arduino.cc. Papan ini dirancang untuk memudahkan pengguna, mulai dari pemula hingga profesional, dalam membuat proyek elektronik interaktif melalui koneksi ke komputer via USB untuk diunggah programnya. Arduino Uno memungkinkan pengguna untuk membuat prototipe perangkat elektronik dengan cepat dan mudah.
Ø Sensor lampu gerak , berfungsi untuk sensor menghidupkan lampu, yaitu perangkat elektronik yang mendeteksi gerakan di area sekitarnya dan secara otomatis menyalakan lampu. Lampu akan tetap menyala selama ada gerakan dan akan mati secara otomatis setelah periode tidak aktif untuk menghemat energi. Sensor ini sering disebut juga sebagai sakelar sensor gerak, dan umum digunakan untuk meningkatkan keamanan serta kenyamanan, baik di dalam maupun luar ruangan.
Ø Breadboard, yaitu papan berlubang untuk membuat prototipe rangkaian
elektronik tanpa penyolderan.
Papan ini memudahkan perakitan komponen elektronik untuk tujuan pengujian dan
pembelajaran, karena komponen dan kabel dapat ditancapkan langsung ke dalam
lubangnya, bukan dihubungkan secara permanen.
Ø Sensor Relay, yaitu sakelar otomatis yang menggunakan prinsip elektromagnetik, di mana arus kecil dapat mengendalikan sirkuit bertegangan lebih tinggi. Komponen ini terdiri dari kumparan elektromagnet dan kontak sakelar mekanis yang bekerja bersama untuk menghubungkan atau memutuskan aliran listrik. Fungsi utamanya adalah melindungi komponen lain dari arus besar, sehingga memungkinkan kontrol yang lebih aman dan efisien.
Ø
Bolam lampu
Ø Sumber Listrik/Stop Contact, yaitu terminal
atau soket listrik yang berfungsi sebagai titik penghubung antara instalasi
listrik di dinding dengan alat elektronik melalui steker
(colokan). Fungsinya adalah untuk mendistribusikan energi listrik sehingga
alat dapat digunakan dengan aman.
3). Langkah-langkah pembuatan karya:
Ø Siapkan alat dan bahan ang akan
digunakan.
Ø Bersihkan kulit ranting kayu kopi dengan pisau/kater.
Ø Haluskan ranting kayu kopi menggunakan amplas.
Ø Potong ranting kayu kopi sesuai ukuran
menggunakan gergaji.
Ø Potong papan
kayu sesuai ukuran
untuk menjadi tatakan/alas, berbentuk
bundar.
Ø Pasangkan fitting lampu yang sudah dipasang kabelnya pada
tatakan/alas.
Ø Rangkai ranting kayu kopi yang sudah dipotong potong ditatakan yang sudah
di sediakan dengan menggunakan lem cina/lem
G. Lakukan sampai
berbentuk sesuai dengan desain.
Ø Finishing karya menggunakan politur
Ø Rangkai Arduino, Breadboard, Relay dan sensor pada papan alas
Ø Lakukan pengcodingan menggunakan aplikasi Arduino pada perangkat
computer, tes hasil pengcodingan apakah trial atau error.
Ø Alirkan dengan menggunakan arus listik agar lampu dapat menyala
4).
Dokumentasi Praktikum
5). Penyajian Karya
Penyajian karya
dilakukan pada event kegiatan tahunan ditingkat Provinsi, yaitu event LOMBA
INOVASI, KREATIVITAS DAN PAMERAN (EXPO) TAHUN 2024 di Palembang. Lomba Inovasi,
Kreativitas, dan Pameran (Expo) 2024 adalah acara tahunan yang
menyelenggarakan kompetisi dan pameran hasil karya inovatif dan kreatif, yang
seringkali diikuti oleh pelajar, mahasiswa, UMKM, dan masyarakat umum untuk
memamerkan produk, ide, serta solusi baru mereka. Acara ini bertujuan untuk
memberikan wadah ekspresi, apresiasi, dan juga kesempatan untuk mempromosikan
karya serta mengembangkan potensi lokal.
Selama tiga
hari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan lomba
inovasi, kreativitas dan pameran (expo) tingkat SMK se Sumsel yang berpusat di
Gedung Serba Guna, Asrama Haji Palembang, Sumatera Selatan, yang di buka sejak
Rabu, 7 Agustus 2024 dan di tutup pada Jum’at, 9 Agustus 2024.
Jenis-jenis acara dalam "Lomba Inovasi, Kreativitas, dan
Pameran (Expo) 2024" diantaranya:
a) Kompetisi: Lomba untuk menguji dan membandingkan ide-ide
inovatif dan kreatif dari para peserta. Contohnya meliputi lomba inovasi
mahasiswa, kompetisi karya siswa, atau ajang penghargaan bagi usaha mahasiswa.
b) Pameran (Expo): Pameran produk atau karya yang telah
dihasilkan, baik itu prototipe aplikasi, kerajinan, makanan, fashion, maupun
produk teknologi lainnya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan hasil karya
secara langsung kepada publik, termasuk calon pembeli atau investor.
c) Seminar dan Workshop: Acara pendukung seperti seminar kewirausahaan
dengan narasumber ahli atau workshop untuk memberikan pengetahuan dan motivasi kepada peserta
dan pengunjung.
d) Apresiasi: Pemberian penghargaan, seperti KMI Award, untuk mengapresiasi usaha mahasiswa yang berhasil
melewati seleksi dan mencapai pencapaian tertentu.
Tujuan acara "Lomba Inovasi, Kreativitas, dan Pameran (Expo)
2024" diantaranya:
a)
Menjadi platform bagi para inovator muda untuk
memamerkan hasil karya mereka dan mendapatkan apresiasi.
b)
Mendorong dan mengembangkan kreativitas, inovasi, dan
semangat kewirausahaan di kalangan pelajar dan mahasiswa.
c)
Memberikan kesempatan bagi UMKM dan pelaku usaha
lainnya untuk mempromosikan produk unggulan mereka secara lebih luas.
6). Reward karya
Pada event ini SMKN 1 Oku Selatan
mendapatkan juara 3. Sebuah prestasi yang cukup dapat dibanggakan oleh Siswa
SMKN 1 OKU Selatan dan hal ini tentunya dapat membawa nama baik sekolah
tersebut dalam ajang kompetisi tingkat provinsi.
D.
PENUTUP
Dalam kehidupan sehari-hari pentingnya
berkreativitas bagi seorang siswa merupakan hal sangat penting terutama untuk
mengasah kemampuan psikomotorik siswa. Proses kreatif siswa dapat diarahkan
melalui berbagai medium. Medium untuk proses kreatif siswa dapat kita peroleh
dalam bentuk bermacam-macam baik melalui belajar di luar ruangan maupun di
dalam ruangan (ruang kelas). Medium di dalam ruang kelas data dilakukan dalam
bentuk penciptaan karya seni/membuat karya seni. Bahan dalam proses kreatif
tidak selalu harus menggunakan bahan yang mahal dan harus membeli, tetapi data
kita memanfatkan apa yang ada di sekitar kita, terutama untuk bahan-bahan yang
termanfaatkan dengan baik, misalnya limbah kayu kopi. Limbah kayu kopi di
daerah-daerah perkebunan kopi khususnya daerah kabupaten OKU Selatan, Sumatera
selatan selama ini kurang dimanfaatkan dengan baik, padahal keberadaan limbah
kayu kopi yang hamir tiap musim selalu ada justru akan memiliki potensi besar
untuk dijadikan produk kerajinan bernilai guna dan ekonomi sehingga dapat
mendukung kreativitas siswa, mendorong inovasi pendidikan, serta memberi
manfaat sosial dan lingkungan. Melalui pengolahan kreatif, limbah kayu kopi
dapat menjadi produk kriya yang estetik, fungsional, serta memiliki peluang
sebagai sumber pendapatan masyarakat.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
E.
KEPUSTAKAAN
Bandem, I Made, 2002, “Mengembangkan Lingkungan Sosial Yang Mendukung Kriya Seni”, Makalah Seminar Internasional Seni Rupa, Program Pascasarjana ISI Yogyakarta
Dorojati, Mahanani Anggun. (2018), .Desain Kacamata Kayu Memanfaatkan Kayu Kopi Robusta (Coffee Canephora) Jawa Timur Dengan Konsep Diver. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, BPS. (2017), Kabupaten Ogan Komering Ulu selatan Dalam Angka, BPS kab.OKUS.
Kristiawan, Muhammad, dkk. (2018), Inovasi Pendidikan, Wade Group. Ponorogo.
Najiyati, Sri, dan Danarti. (2004) “Kopi: Budi Daya dan Penanganan Pascapanen”. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nazir, Nani. (2016) “Mengenal Tanaman Kopi” BBPP Lembang Publikasi.. Badan Besar Pelatihan Pertanian Lembang.
Pascasarjana, ISI Yogyakarta. (2008), SURYA SENI – Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni, Galang Press, Yogyakarta.
Pascasarjana, ISI Yogyakarta. (2012), CORAK – Jurnal Seni Kriya.Vol.1, Galang Press, Yogyakarta.
Rusdiana. (2014), Konsep Inovasi Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung.
Salam, Sofyan. (2020), Pengetahuan Dasar Seni Rupa, UNM, Makasar.
Sa’ Ud, Udin Syaefudin. (2012), Inovasi Pendidikan, Alfabeta, Bandung.
SP. Gustami, 1992,“Filosofi Seni Kriya Tradisional Indonesia”, SENI, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, Edisi II / 01 Januari, BP. ISI Yogyakarta.
Sp., Soedarso, 1990, Tinjauan Seni Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni, Saku Dayar Sana, Yogyakarta.
Sumantri, Arif. (2010), Kesehatan
Lingkungan dan Prespektif Islam Kencana, Jakarta.
WEBTOGRAFI
https://doktor.pertanian.uma.ac.id/2023/04/usia-produktif-bagi-tanaman-kopi-yang-ideal/
https://www.google.com/search?sca_esv=gambar+akar+kopi+robusta&sa=X&ved=2ahUKEwj1qeW
https://www.kk-advocates.com/news/read/kopi-oku-selatan-berjuang-dapatkan-sertifikat-indikasi-geografis).
http://.wordpress.com/2012/06/16, Pengelolahan Limbah, diakses tanggal 24 Oktober 2019


.jpg)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar